JAKARTA - Seorang akademisi berprestasi baru saja menyelesaikan studi doktoralnya dengan mengangkat riset tentang pemanfaatan limbah sisa pembakaran batubara.
Inovasi riset ini dilakukan oleh Rektor Universitas Ichsan (Unisan) Gorontalo yang fokus pada pengolahan Fly Ash dan Bottom Ash di lapangan.
Melalui penelitian mendalam tersebut, ia berhasil membuktikan bahwa limbah industri yang selama ini dianggap mencemari lingkungan sebenarnya memiliki nilai ekonomis tinggi.
Temuan ini diharapkan mampu menjadi solusi praktis bagi industri pembangkit listrik dalam mengelola sisa operasional mereka secara jauh lebih ramah lingkungan.
Keberhasilan Akademik Dalam Bidang Ilmu Lingkungan Dan Energi Terbarukan
Rektor Universitas Ichsan Gorontalo, Dr. Abdul Gaffar Latjoke, sukses mempertahankan disertasinya di hadapan para penguji pada sidang terbuka yang dilaksanakan baru-baru ini.
Fokus utama riset yang dilakukan adalah mengenai pemanfaatan abu batu bara sebagai bahan substitusi material konstruksi bangunan yang lebih kokoh dan efisien.
Penelitian ini menunjukkan bahwa karakteristik kimia yang terkandung dalam abu batu bara memiliki sifat perekat yang serupa dengan semen pada umumnya.
Dengan proporsi yang tepat, limbah tersebut dapat diolah menjadi produk beton berkualitas tinggi yang mampu menekan biaya produksi infrastruktur secara signifikan.
Keberhasilan meraih gelar doktor ini merupakan pencapaian pribadi sekaligus kontribusi nyata bagi dunia akademisi di wilayah Provinsi Gorontalo dan sekitarnya tersebut.
Pihak universitas merasa bangga atas dedikasi sang rektor yang tetap mengutamakan riset ilmiah di tengah kesibukannya memimpin institusi pendidikan tinggi di daerah.
Riset ini dipresentasikan pada Senin 2 Februari 2026 sebagai bagian dari komitmen akademisi dalam mendukung kebijakan pemerintah terkait pengelolaan limbah industri nasional.
Diharapkan hasil penelitian ini tidak hanya berhenti di atas kertas, namun dapat segera diimplementasikan secara luas oleh pelaku industri pertambangan.
Transformasi Limbah FABA Menjadi Produk Konstruksi Bernilai Tambah Tinggi
Dalam pemaparannya, Dr. Abdul Gaffar menjelaskan bahwa Fly Ash dan Bottom Ash atau FABA seringkali menjadi kendala besar bagi operasional pembangkit listrik.
Namun, melalui pendekatan teknologi pengolahan yang tepat, limbah tersebut dapat disulap menjadi paving block, batako, hingga material pendukung pembangunan jalan raya nasional.
Proses transformasi ini melibatkan pencampuran material abu dengan beberapa zat aditif tertentu guna mencapai tingkat kekerasan yang sesuai dengan standar nasional Indonesia.
Langkah ini sangat sejalan dengan konsep ekonomi sirkular yang sedang gencar dipromosikan oleh pemerintah pusat guna mengurangi dampak kerusakan lingkungan hidup.
Pemanfaatan FABA secara masif di sektor konstruksi dapat membantu mengurangi ketergantungan industri terhadap penambangan pasir dan batu alam yang berlebihan di alam.
Hal ini memberikan keuntungan ganda, yakni pembersihan lahan pembuangan limbah serta penyediaan material bangunan yang lebih terjangkau bagi masyarakat berpenghasilan rendah tersebut.
Banyak pihak menilai bahwa riset ini adalah jawaban atas tantangan pengelolaan sampah industri yang selama ini sering menjadi konflik sosial di lingkungan.
Keberanian mengangkat tema limbah batubara menunjukkan adanya kepekaan intelektual terhadap isu-isu lingkungan global yang sedang dihadapi oleh umat manusia saat ini.
Dukungan Sektor Industri Terhadap Implementasi Hasil Riset Akademisi Lokal
Sejumlah praktisi energi menyambut baik hasil riset doktoral ini dan berharap adanya kolaborasi lebih lanjut antara pihak universitas dengan perusahaan pembangkit listrik.
Kerja sama strategis diperlukan untuk melakukan uji coba skala besar terhadap material konstruksi yang berbasis abu batu bara tersebut di proyek nyata.
Dengan adanya validasi dari kalangan industri, kepercayaan masyarakat terhadap keamanan penggunaan material dari limbah batubara ini dipastikan akan meningkat secara drastis nantinya.
Sektor industri siap memberikan dukungan berupa penyediaan bahan baku limbah bagi kebutuhan penelitian lanjutan yang dilakukan oleh tim akademisi dari Unisan.
Dr. Abdul Gaffar menyatakan bahwa dirinya siap membuka ruang diskusi dengan berbagai pihak untuk mematangkan konsep industrialisasi hasil riset yang telah ia buat.
Pemerintah daerah juga diharapkan dapat memberikan payung hukum atau regulasi yang memudahkan penggunaan produk berbasis limbah dalam proyek-proyek pembangunan daerah di Gorontalo.
Tanpa adanya dukungan regulasi, inovasi secanggih apa pun akan sulit untuk menembus pasar komersial yang sudah didominasi oleh material konvensional selama ini.
Semangat kolaborasi ini menjadi kunci utama agar hasil pemikiran dari bangku kuliah dapat memberikan manfaat langsung bagi pembangunan infrastruktur fisik daerah.
Visi Pendidikan Tinggi Dalam Mendorong Inovasi Berkelanjutan Di Indonesia
Pencapaian Rektor Unisan Gorontalo ini menjadi inspirasi bagi para dosen dan mahasiswa lainnya untuk terus berkarya melalui riset yang memiliki dampak sosial.
Universitas kini dituntut untuk tidak hanya menjadi menara gading, tetapi harus mampu menjadi pusat solusi bagi berbagai permasalahan yang ada di masyarakat.
Dr. Abdul Gaffar berharap gelarnya ini dapat memotivasi seluruh civitas akademika untuk lebih berani melakukan penelitian yang bersifat multidisiplin dan inovatif di masa depan.
Pendidikan tinggi harus menjadi garda terdepan dalam menjaga keseimbangan antara kemajuan ekonomi industri dan kelestarian fungsi lingkungan hidup yang ada saat ini.
Ke depan, Unisan Gorontalo berencana untuk membangun laboratorium khusus yang berfokus pada pengembangan material baru dari berbagai jenis limbah industri yang tersedia.
Upaya ini merupakan bagian dari visi jangka panjang universitas untuk menjadi pusat keunggulan riset energi dan lingkungan di kawasan timur Indonesia.
Melalui inovasi pemanfaatan abu batu bara, dunia pendidikan telah menunjukkan perannya dalam mendukung target net zero emission yang dicanangkan oleh pemerintah Indonesia.
Dedikasi dan kerja keras dalam meraih gelar doktor ini menjadi bukti bahwa ilmu pengetahuan adalah kunci untuk mengubah limbah menjadi berkah.