JAKARTA - Harga kontrak Crude Palm Oil di Bursa Malaysia Derivatives kembali menguat dan melanjutkan tren positif.
Penguatan ini terjadi selama dua hari berturut-turut seiring membaiknya sentimen pasar global. Kenaikan harga turut dipengaruhi reli minyak nabati pesaing serta kondisi produksi yang lebih rendah.
Pada perdagangan terakhir, kontrak CPO menunjukkan pergerakan yang solid di berbagai tenor. Kinerja ini mencerminkan optimisme pelaku pasar terhadap prospek jangka pendek. Sentimen positif menjadi faktor utama yang menopang laju harga.
Penguatan harga CPO juga menandakan stabilitas permintaan global. Pasar merespons kombinasi data ekspor yang baik dan suplai yang lebih terbatas. Kondisi ini mendorong harga bertahan di level tinggi.
Pergerakan Kontrak Berjangka
Kontrak berjangka CPO untuk Februari 2026 tercatat naik menjadi 4.182 Ringgit Malaysia per ton. Kenaikan juga terjadi pada kontrak Maret 2026 yang melesat ke level 4.243 Ringgit Malaysia per ton. Pergerakan ini menunjukkan minat beli yang tetap kuat.
Selanjutnya, kontrak April 2026 turut mengalami kenaikan hingga mencapai 4.260 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak Mei 2026 juga menguat menjadi 4.252 Ringgit Malaysia per ton. Tren ini menegaskan konsistensi reli harga CPO.
Penguatan berlanjut pada kontrak Juni dan Juli 2026 yang sama-sama mencatat kenaikan. Harga Juni 2026 berada di level 4.232 Ringgit Malaysia per ton. Sementara itu, kontrak Juli 2026 naik menjadi 4.211 Ringgit Malaysia per ton.
Pengaruh Pasar Minyak Nabati Global
Pergerakan harga CPO tidak terlepas dari dinamika minyak nabati global. Di bursa Dalian, kontrak minyak kedelai dan minyak sawit sama-sama mengalami kenaikan. Kondisi ini memberikan dorongan tambahan bagi harga CPO.
Selain itu, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade juga tercatat menguat. Penguatan di berbagai bursa utama memperkuat sentimen positif pasar. Minyak sawit cenderung mengikuti pergerakan minyak nabati pesaingnya.
Persaingan ketat di pasar minyak nabati global membuat harga saling berkorelasi. Ketika harga pesaing naik, minyak sawit menjadi lebih kompetitif. Hal ini turut menjaga minat pembeli tetap stabil.
Kinerja Ekspor Menopang Harga
Dari sisi fundamental, kinerja ekspor memberikan dukungan kuat terhadap harga CPO. Ekspor produk minyak sawit Malaysia tercatat meningkat pada periode awal hingga pertengahan Januari. Kenaikan ini memperkuat optimisme pasar terhadap permintaan.
Laporan pengiriman menunjukkan ekspor mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan dibandingkan bulan sebelumnya. Data ini mencerminkan permintaan luar negeri yang tetap solid. Kondisi tersebut membantu menopang reli harga CPO.
Meski demikian, penguatan harga tidak lepas dari tantangan. Apresiasi nilai tukar ringgit membuat CPO menjadi relatif lebih mahal bagi pembeli asing. Faktor ini sedikit menahan laju kenaikan harga.
Faktor Penahan dan Prospek Ke Depan
Di sisi lain, pergerakan harga CPO juga dipengaruhi kondisi energi global. Harga minyak mentah dunia tercatat melemah tipis akibat potensi pemulihan pasokan. Namun, penurunan ini dibatasi oleh gangguan produksi akibat cuaca ekstrem.
Harga minyak mentah yang lebih rendah membuat daya tarik CPO sebagai bahan baku biodiesel berkurang. Kondisi ini menjadi salah satu faktor penahan penguatan harga. Meski begitu, sentimen positif dari sektor lain masih mendominasi.
Secara keseluruhan, prospek CPO tetap didukung kombinasi ekspor yang kuat dan pasokan yang lebih ketat. Pelaku pasar akan terus mencermati pergerakan minyak nabati global dan nilai tukar. Dinamika ini akan menentukan arah harga CPO selanjutnya.