Real Madrid

Mourinho Bertemu Madrid dan Arbeloa, Laga Emosional Tersaji di Lisbon

Mourinho Bertemu Madrid dan Arbeloa, Laga Emosional Tersaji di Lisbon
Mourinho Bertemu Madrid dan Arbeloa, Laga Emosional Tersaji di Lisbon

JAKARTA - Pertemuan Benfica melawan Real Madrid kali ini bukan sekadar pertandingan penting Liga Champions, tetapi juga sarat cerita personal.

Sorotan tertuju kepada Jose Mourinho yang harus berhadapan dengan klub yang pernah ia latih sekaligus pelatih lawan yang merupakan mantan anak asuhnya sendiri, Alvaro Arbeloa.

Matchday kedelapan Liga Champions menghadirkan duel Benfica vs Real Madrid. Pertandingan dijadwalkan Kamis dini hari WIB di Estadio da Luz. Atmosfer laga dipastikan panas karena kedua tim sama-sama mengusung misi krusial demi nasib mereka di kompetisi elite Eropa tersebut.

Benfica wajib menang apabila mau menjaga asa lolos ke babak play-off Liga Champions. Wakil Portugal ini sekarang berada di urutan keenam klasemen dengan 6 poin, berjarak 2 angka dari Olympiacos (8 poin) yang mengisi batas akhir tim zona play-off. Tambahan tiga poin menjadi harga mati agar peluang mereka tetap terbuka hingga laga terakhir.

Di sisi lain, Real Madrid juga datang dengan tekanan tersendiri. Los Merengues wajib menang apabila mau lolos otomatis ke babak 16 besar. Madrid sementara ini berada di urutan ketiga dengan 15 poin, tepat di bawah Arsenal dan Bayern Munich yang sudah mengunci tiket ke fase berikutnya. Hasil maksimal akan memastikan mereka tak perlu melewati jalur tambahan.

Laga ini semakin menarik karena adanya hubungan masa lalu antara Mourinho dan Arbeloa. Pelatih Benfica Jose Mourinho angkat bicara soal pertandingan kontra Real Madrid. Dia memberi ucapan kepada Alvaro Arbeloa yang dipercaya membesut Madrid selepas mundurnya Xabi Alonso.

Arbeloa bukan sosok asing buat Mourinho. Pelatih berusia 43 tahun itu pernah jadi pemain asuhan The Special One di Real Madrid pada 2010-2013. Keduanya pernah bekerja sama dalam salah satu periode kompetitif Madrid di kancah domestik maupun Eropa.

Meski kini berdiri sebagai lawan, Mourinho tetap menunjukkan rasa hormat dan kedekatan personal kepada mantan bek kanan tersebut. Ia bahkan tak segan menyampaikan doa dan harapan terbaiknya untuk perjalanan karier Arbeloa sebagai pelatih muda.

"Pertama dan terpenting, saya berharap semuanya berjalan baik untuknya, itulah yang saya inginkan. Saya ingin Arbeloa sukses di mana pun dia berada," kata Mourinho, dilansir dari AS Diario.

Namun, rasa cinta Mourinho kepada Real Madrid juga tak bisa disembunyikan. Ia mengakui punya ikatan emosional kuat dengan klub ibu kota Spanyol itu, terlepas dari situasi yang mengharuskannya menjadi lawan di pinggir lapangan.

"Saya ingin Real Madrid sukses dengan pelatih mana pun. Bayangkan Real Madrid dengan Arbeloa, saya benar-benar ingin mereka sukses," pelatih berusia 63 tahun ini menambahkan.

Meski begitu, naluri kompetitif Mourinho tetap berbicara. Di tengah rasa hormat dan afeksi terhadap Madrid serta Arbeloa, ia tetap menegaskan satu hal yang tak bisa ditawar saat peluit pertandingan dibunyikan: kemenangan untuk timnya sendiri.

"Saya mencintai Real Madrid dan saya mencintai Alvaro. Saya hanya berharap mereka tampil buruk besok," ujarnya.

Pernyataan itu menggambarkan dilema emosional Mourinho jelang laga besar ini. Ada kenangan, ada kedekatan personal, tetapi di atas segalanya tetap ada profesionalisme dan ambisi membawa Benfica meraih hasil yang mereka butuhkan. 

Duel di Estadio da Luz pun dipastikan bukan cuma soal taktik, tapi juga soal cerita lama yang kembali beririsan di panggung Liga Champions.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index