JAKARTA - Menteri Lingkungan Hidup menyebut proyek Waste to Energy hanya menyelesaikan sebagian kecil masalah sampah di Indonesia.
Proyek ini mampu mengatasi sekitar 13 persen dari total sampah nasional. Dengan capaian ini, jelas bahwa pengelolaan sampah memerlukan strategi tambahan di luar WtE.
Jumlah ini masih jauh dari target pengelolaan sampah yang efektif dan berkelanjutan. Hal ini menunjukkan perlunya kombinasi teknologi lain agar dampak pengolahan sampah lebih maksimal. Pemerintah menekankan bahwa pendekatan terpadu menjadi kunci untuk menyelesaikan masalah sampah secara menyeluruh.
Meski kontribusinya terbatas, Waste to Energy tetap menjadi bagian penting dalam portofolio pengelolaan sampah. Proyek ini tidak hanya menghasilkan listrik, tetapi juga mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA. Dengan pengawasan dan pengelolaan yang tepat, WtE tetap memberikan manfaat signifikan.
Kebutuhan Infrastruktur dan Biaya Proyek
Hanif menjelaskan bahwa total unit WtE yang dibutuhkan mencapai 20-33 unit. Setiap unit membutuhkan Capital Expenditure sekitar Rp 3,1 triliun sehingga total investasi diperkirakan mencapai Rp 62–102,3 triliun. Jumlah ini menegaskan skala besar proyek WtE dalam konteks pengelolaan sampah nasional.
Selain biaya pembangunan, operasional harian fasilitas WtE juga memerlukan dana yang tidak sedikit. Perkiraan biaya operasional mencapai Rp 34 triliun per tahun. Kementerian menekankan pentingnya alokasi anggaran yang tepat agar fasilitas dapat berjalan secara berkelanjutan.
Investasi ini menjadi sinyal komitmen pemerintah untuk memperkuat pengelolaan sampah melalui teknologi. Dengan perencanaan matang, proyek WtE diharapkan bisa berjalan efektif dan memberikan kontribusi nyata terhadap energi terbarukan. Hal ini juga menjadi langkah awal untuk meningkatkan kesadaran publik mengenai pengelolaan sampah.
Strategi Pengelolaan Sampah Komprehensif
Selain Waste to Energy, pemerintah menerapkan beberapa metode pengolahan sampah lainnya. Pengolahan organik dari sumber mampu menyelesaikan sekitar 12,4 persen masalah sampah. TPS 3R atau bank sampah induk memberikan kontribusi sekitar 19,84 persen, sementara TPST RDF dan non-RDF menyelesaikan 12,19 hingga 41,94 persen.
Pendekatan gabungan ini diharapkan bisa menutupi kekurangan yang tidak dapat diatasi oleh WtE. Dengan diversifikasi metode, pemerintah menargetkan pengelolaan sampah yang lebih merata dan efektif. Strategi ini juga melibatkan berbagai pemangku kepentingan untuk memastikan implementasi berjalan lancar.
Hanif menegaskan bahwa masih banyak persoalan sampah yang harus ditangani bersama. Mekanisme teknologi yang beragam menjadi solusi agar target pengurangan sampah nasional tercapai. Upaya ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah tidak bisa mengandalkan satu teknologi saja.
Perkembangan Proyek Waste to Energy
Groundbreaking proyek WtE yang dikelola oleh Badan Pengelola Investasi Danantara ditargetkan segera terlaksana. Lelang proyek sudah dimulai untuk mempercepat proses pembangunan fasilitas. Tujuannya agar proyek dapat segera berkontribusi dalam mengurangi volume sampah dan menghasilkan energi listrik.
CEO BPI Danantara menyebut bahwa waktu pelaksanaan proyek kini lebih cepat dibandingkan sebelumnya. Sebelumnya, satu proyek membutuhkan 3-4 tahun negosiasi hingga selesai, sekarang ditargetkan groundbreaking hanya dalam beberapa bulan. Langkah percepatan ini menunjukkan upaya nyata untuk menjawab tantangan pengelolaan sampah nasional.
Program WtE sebenarnya sudah ada sejak 2014 namun belum berjalan optimal. Di Indonesia, hanya dua PLTSa yang sudah beroperasi, yaitu di Surabaya dan Surakarta. Dengan proyek baru, kapasitas WtE diharapkan meningkat dan memberikan kontribusi lebih signifikan.
Prospek dan Tantangan Ke Depan
Proyek Waste to Energy memberikan peluang sekaligus tantangan dalam pengelolaan sampah. Walaupun kontribusinya terbatas, WtE tetap bagian dari strategi energi terbarukan dan pengurangan sampah. Ke depan, pengawasan ketat dan pemeliharaan fasilitas menjadi kunci agar manfaat proyek bisa maksimal.
Pemerintah menekankan kolaborasi antara berbagai pihak untuk menyelesaikan persoalan sampah. Partisipasi masyarakat, investor, dan pemerintah daerah sangat dibutuhkan. Dengan sinergi ini, target pengelolaan sampah nasional bisa tercapai lebih cepat dan berkelanjutan.
Inovasi teknologi dan pendekatan multi-metode menjadi fondasi keberhasilan pengelolaan sampah. Proyek WtE, didukung metode lain, diharapkan mampu menurunkan beban lingkungan dan mendorong transisi energi bersih. Strategi komprehensif ini membuka jalan bagi Indonesia dalam menghadapi tantangan sampah di masa depan.