Bank Indonesia Pertahankan Suku Bunga Demi Menjaga Stabilitas Rupiah Nasional

Jumat, 20 Februari 2026 | 08:57:46 WIB
Bank Indonesia Pertahankan Suku Bunga Demi Menjaga Stabilitas Rupiah Nasional

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) kembali menahan suku bunga acuan BI-Rate di level 4,75%. 

Suku bunga deposit facility tetap di 3,75% dan lending facility di 5,50%. Keputusan ini bertujuan memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian pasar global.

Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan, langkah ini penting untuk menjaga inflasi tetap terkendali. Selain itu, penahanan suku bunga juga menopang pertumbuhan ekonomi domestik. “BI tetap mencermati ruang penurunan suku bunga BI-Rate lebih lanjut,” ujarnya.

Langkah tersebut dinilai tepat karena kondisi ekonomi global yang berisiko masih tinggi. Penahanan suku bunga memberikan kepastian bagi investor dan pelaku usaha. Dengan demikian, rupiah dapat tetap stabil di tengah dinamika eksternal.

Prospek Ekonomi Global yang Berbeda

BI menilai pertumbuhan ekonomi dunia cenderung melambat pada 2026, turun menjadi 3,2% dari 3,3% pada 2025. Perlambatan dipengaruhi tarif resiprokal Amerika Serikat dan ketegangan geopolitik yang berlanjut. Amerika Serikat diperkirakan masih relatif kuat karena stimulus fiskal dan investasi teknologi, termasuk kecerdasan buatan.

Sementara itu, ekonomi Eropa dan Jepang melemah akibat turunnya ekspor dan permintaan domestik. Ekonomi China dan India juga tertahan karena konsumsi masyarakat yang belum pulih sepenuhnya. Kondisi ini menambah kompleksitas dinamika pasar global bagi bank sentral.

Aliran modal ke negara berkembang tetap selektif karena imbal hasil surat utang AS tenor panjang yang tinggi. Pelemahan indeks dolar AS turut memengaruhi arus modal. Permintaan aset lindung nilai semakin meningkat di tengah ketidakpastian ekonomi.

Penahanan Suku Bunga Sebagai Jangkar Stabilitas

Dalam konteks tersebut, BI menilai penahanan suku bunga menjadi jangkar stabilitas. Kebijakan makroprudensial diarahkan pro-pertumbuhan melalui penguatan insentif likuiditas. Tujuannya mendorong penurunan suku bunga kredit dan percepatan pembiayaan sektor riil prioritas.

“Kebijakan ini memastikan perbankan tetap hati-hati namun mendukung pertumbuhan,” jelas Perry. Strategi ini penting agar bank tetap berperan aktif dalam mendorong aktivitas ekonomi. Selain itu, masyarakat dan pelaku usaha mendapat kepastian untuk merencanakan investasi.

Penahanan suku bunga juga mempertimbangkan kestabilan nilai tukar dan inflasi. BI terus mengamati peluang penurunan suku bunga di masa depan jika kondisi eksternal dan domestik memungkinkan. Dengan langkah ini, rupiah tetap mendapat perlindungan dari tekanan eksternal.

Dukungan Sistem Pembayaran dan Infrastruktur Digital

Selain kebijakan suku bunga, BI memperluas sistem pembayaran untuk mendukung pertumbuhan ekonomi inklusif. Digitalisasi dan penguatan infrastruktur menjadi fokus utama. Tujuannya mempercepat transaksi ekonomi sekaligus memperkuat ketahanan sistem keuangan.

Kebijakan ini mendukung usaha mikro, kecil, dan menengah dalam mengakses pembiayaan dan pasar. Dengan sistem pembayaran yang efisien, aktivitas ekonomi lebih lancar dan inklusif. Hal ini juga memperkuat efektivitas penyaluran kredit bagi sektor riil.

Digitalisasi sistem pembayaran menjadi kunci bagi transformasi ekonomi nasional. Pemerintah dan BI bekerja sama untuk memperluas jangkauan teknologi ke seluruh lapisan masyarakat. Langkah ini diharapkan meningkatkan efisiensi, transparansi, dan daya saing ekonomi.

Kesiapan Menghadapi Risiko Global

Ke depan, BI akan tetap waspada terhadap dinamika global dan domestik. Bauran kebijakan diperkuat agar ekonomi nasional tangguh menghadapi gejolak pasar global. Ruang untuk mendorong pertumbuhan lebih tinggi tetap dijaga melalui kombinasi suku bunga, likuiditas, dan digitalisasi sistem pembayaran.

“Kebijakan kami fleksibel, pro-pertumbuhan, dan menjaga stabilitas,” kata Perry. BI menekankan pentingnya koordinasi antara kebijakan moneter dan makroprudensial. Hal ini memastikan pertumbuhan ekonomi tetap terjaga sekaligus mengurangi risiko eksternal yang mungkin muncul.

Langkah ini diharapkan membuat pasar keuangan lebih stabil. Investor dan pelaku usaha memperoleh kepastian untuk mengambil keputusan ekonomi. Dengan stabilitas yang terjaga, rupiah dapat mempertahankan daya beli dan nilai ekonominya.

Peran BI dalam Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Penahanan suku bunga bukan hanya soal stabilitas moneter, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi. BI tetap membuka ruang untuk kebijakan lanjutan jika inflasi terkendali. Kombinasi ini bertujuan menciptakan iklim investasi yang kondusif.

Kebijakan BI berfokus pada menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan stabilitas harga. Strategi ini juga memberikan sinyal positif kepada pasar domestik maupun internasional. Rupiah yang stabil menjadi penopang utama perdagangan dan investasi.

Dalam jangka panjang, kebijakan moneter yang terukur memperkuat fundamental ekonomi. Langkah ini membantu Indonesia menghadapi gejolak global tanpa mengorbankan pertumbuhan. Dengan koordinasi yang baik, tujuan inflasi, nilai tukar, dan pertumbuhan dapat tercapai secara simultan.

Terkini