Konsumsi Listrik Nasional Meningkat Sepanjang 2025, Jadi Sinyal Positif Ekonomi

Senin, 02 Februari 2026 | 09:31:37 WIB
Konsumsi Listrik Nasional Meningkat Sepanjang 2025, Jadi Sinyal Positif Ekonomi

JAKARTA - Peningkatan konsumsi listrik nasional sepanjang 2025 mencerminkan dinamika ekonomi yang terus bergerak. 

Aktivitas rumah tangga dan sektor usaha menunjukkan tren pemulihan yang stabil. Kondisi ini menjadi sinyal positif bagi ketahanan ekonomi domestik.

Pertumbuhan konsumsi listrik nasional sepanjang 2025 mencerminkan menguatnya konsumsi domestik. Aktivitas ekonomi lintas sektor juga mengalami peningkatan yang konsisten. Data mencatat penjualan listrik mencapai 317,69 terawatt hour.

Angka tersebut tumbuh 3,75 persen secara tahunan. Pada 2024, penjualan listrik tercatat sebesar 306,22 terawatt hour. Kenaikan ini menunjukkan permintaan energi yang terus bertambah.

Listrik sebagai Indikator Aktivitas Ekonomi

Konsumsi listrik kerap dijadikan indikator awal pergerakan ekonomi nasional. Indikator ini mencerminkan konsumsi rumah tangga dan aktivitas produksi. Perubahan konsumsi listrik biasanya sejalan dengan dinamika ekonomi.

Tren kenaikan konsumsi listrik mengindikasikan daya beli masyarakat relatif terjaga. Kondisi ini terjadi di tengah ketidakpastian global. Tekanan inflasi dan geopolitik masih membayangi perekonomian dunia.

Meski demikian, konsumsi energi tetap tumbuh secara stabil. Aktivitas ekonomi domestik menjadi penopang utama. Hal ini memperlihatkan daya tahan ekonomi nasional.

Stabilitas Pasokan Dorong Pertumbuhan

Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menilai pertumbuhan konsumsi listrik dipengaruhi stabilitas pasokan energi. Dukungan kebijakan pemerintah turut menjaga ketahanan sektor ketenagalistrikan. Sinergi tersebut menopang aktivitas ekonomi nasional.

“Listrik merupakan infrastruktur dasar yang menopang konsumsi dan produktivitas. Keandalan pasokan menjadi kunci kesinambungan aktivitas ekonomi dan stabilitas harga,” ujarnya.

Pasokan listrik yang andal menjaga kelancaran kegiatan usaha. Distribusi energi yang stabil mendukung aktivitas masyarakat. Kondisi ini berperan penting dalam menjaga harga tetap terkendali.

Kontribusi Rumah Tangga dan Industri

Dari sisi rumah tangga, konsumsi listrik sepanjang 2025 tercatat 133,41 terawatt hour. Angka ini setara dengan 41,99 persen dari total penjualan nasional. Konsumsi rumah tangga tumbuh 3,2 persen secara tahunan.

Peningkatan tersebut sejalan dengan aktivitas domestik masyarakat. Kebutuhan energi rumah tangga terus meningkat. Hal ini mencerminkan pola konsumsi yang stabil.

Sektor industri juga mencatatkan pertumbuhan konsumsi listrik. Konsumsi industri mencapai 93,35 terawatt hour. Angka tersebut tumbuh 2,5 persen secara tahunan.

Pertumbuhan industri ditopang oleh sektor makanan dan minuman. Industri besi dan baja turut berkontribusi signifikan. Sektor logam juga memiliki peran penting dalam peningkatan konsumsi.

Bisnis dan Perluasan Basis Konsumsi

Pertumbuhan tertinggi terjadi pada sektor bisnis. Konsumsi listrik sektor ini mencapai 60,74 terawatt hour. Angka tersebut naik 5,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Lonjakan konsumsi dipicu meningkatnya aktivitas pusat data. Pusat perbelanjaan dan perdagangan non-otomotif turut mendorong kenaikan. Sektor logistik dan pergudangan juga menunjukkan pertumbuhan.

Direktur Retail dan Niaga PLN Adi Priyanto menyebut pertumbuhan merata mencerminkan geliat ekonomi. Aktivitas ekonomi dinilai semakin masif di berbagai sektor. Namun efisiensi tetap menjadi perhatian.

“Aktivitas produksi dan distribusi yang meningkat harus diiringi pengendalian biaya,” katanya. Pengendalian biaya dinilai penting untuk menjaga stabilitas harga. Efisiensi menjadi kunci menjaga inflasi.

Selain itu, PLN mencatat penambahan 3,29 juta pelanggan baru sepanjang 2025. Total pelanggan listrik nasional mencapai 96,2 juta. Perluasan akses ini memperkuat basis konsumsi domestik.

Ekspansi pelanggan memperluas permintaan energi nasional. Konsumsi listrik diperkirakan terus meningkat ke depan. Kondisi ini menjadi fondasi pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Terkini