Optimalkan Pangan Lokal untuk Keberlanjutan Program Makan Bergizi Gratis

Senin, 02 Februari 2026 | 08:13:26 WIB
Optimalkan Pangan Lokal untuk Keberlanjutan Program Makan Bergizi Gratis

JAKARTA - Keberlanjutan fiskal dan efektivitas dampak ekonomi dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini bergantung pada sejauh mana pemerintah mampu mengintegrasikan potensi pangan lokal ke dalam rantai pasok harian. Langkah ini dinilai tidak hanya strategis untuk kesehatan nasional, tetapi juga menjadi mesin penggerak ekonomi daerah yang inklusif melalui sinergi dengan inisiatif seperti Peternakan Ayam Merah Putih milik Kementerian Pertanian.

Setelah berjalan selama satu tahun, evaluasi terhadap MBG menunjukkan bahwa pemanfaatan bahan baku dari peternakan rakyat dan komoditas wilayah setempat menjadi kunci utama. Hal ini ditegaskan oleh Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, yang menyoroti pentingnya keterlibatan masyarakat lokal dalam ekosistem program besar ini.

Sinergi Pangan Lokal dan Kedaulatan Ekonomi Daerah

Menurut Wijayanto, integrasi MBG dengan sumber daya lokal adalah langkah krusial untuk memastikan anggaran negara memberikan dampak berganda (multiplier effect). Dengan mengandalkan hasil bumi dan ternak dari wilayah sekitar, ketergantungan pada pasokan luar dapat dikurangi, sehingga biaya logistik lebih efisien dan kesegaran bahan makanan lebih terjamin.

"Dengan mengandalkan rantai pasok dari peternakan rakyat dan komoditas pangan lokal, program ini tidak hanya memastikan pemenuhan standar gizi nasional, tetapi juga memberdayakan masyarakat lokal secara inklusif dan bertahap melalui sinergi kebijakan yang lebih efisien," ujar Wijayanto melalui keterangan tertulis.

Meskipun memuji konsep ini sebagai terobosan besar, ia mengingatkan pentingnya penilaian berkala terhadap pelaksanaan di lapangan. "Menurut saya MBG ini suatu ide yang revolusioner, meski dalam tataran implementasi masih perlu evaluasi," sambung dia. Lebih lanjut, Wijayanto melihat potensi besar MBG dalam mendorong pertumbuhan nasional jika dikelola dengan basis data yang akurat. Ia meyakini bahwa bahan pangan lokal yang mudah diakses dan harganya stabil akan menjaga stabilitas program dalam jangka panjang.

"Apabila implementasi di tingkat lokal mampu dilakukan secara masif, terukur, dan tertarget, tingkat kesuksesan program untuk mencapai hasil yang diinginkan bisa lebih terpenuhi," papar Wijayanto.

Menjamin Kualitas Nutrisi Melalui Keamanan Pangan Higienis

Dari perspektif kesehatan publik, keberhasilan MBG tidak hanya diukur dari jumlah porsi yang dibagikan, tetapi juga kualitas gizi dan keamanan konsumsinya. Analis Kebijakan Ahli Muda Kementerian Kesehatan, Agus Triwinarto, menekankan bahwa keberagaman pangan lokal adalah modal utama dalam memenuhi standar kecukupan gizi harian yang dibutuhkan tubuh.

Agus berpendapat bahwa pengawasan ketat terhadap aspek higienitas dan keamanan pangan harus berjalan beriringan dengan pemanfaatan potensi daerah. "Dengan peningkatan keragaman pangan lokal, dan penjaminan keamanan pangan dan makanan higienis, MBG yang diberikan memang akan sesuai dengan kecukupan gizi," kata Agus.

Ia optimis bahwa kombinasi antara manajemen rantai pasok yang bersih, variasi menu bernutrisi, dan ketepatan sasaran akan melahirkan generasi Indonesia yang lebih kompetitif. Saat ini, skala program telah meluas secara signifikan untuk mencakup kelompok masyarakat yang paling rentan terhadap masalah gizi.

"Desain program MBG yang telah menyasar 55,1 juta penerima manfaat setiap hari memang merupakan upaya intervensi pemerintah untuk memenuhi gizi masyarakat," ucap Agus. "Guna mewujudkan generasi emas Indonesia 2045, sekaligus menurunkan prevalensi stunting, sasaran diperluas dari yang awalnya siswa sekolah, ke ibu hamil, menyusui, dan bayi di bawah dua tahun," sambungnya.

Strategi Intervensi Spesifik dalam Menekan Angka Stunting

Fokus MBG di tahun 2026 ini semakin mempertajam bidikan pada upaya penurunan prevalensi stunting. Ketua Tim Kerja Gizi Kementerian Kesehatan, Yuni Zahraini, menjelaskan bahwa terdapat tiga kelompok utama yang menjadi sasaran pokok intervensi spesifik, yakni remaja putri, ibu hamil, dan balita.

Melalui program ini, pemerintah berharap dapat memberikan satu porsi makanan berkualitas tinggi setiap harinya untuk menambal kekurangan nutrisi yang mungkin terjadi di tingkat rumah tangga. "Harapannya melalui MBG ini, intervensi gizinya akan menggantikan satu kali porsi makan yang berkualitas. Didukung dengan MBG yang kaya protein hewani, program intervensi gizi ini bisa saling melengkapi," terang Yuni.

Namun, Yuni juga memberikan catatan kritis bahwa keberhasilan jangka panjang MBG sangat bergantung pada transparansi dan keberanian pemerintah dalam melakukan perbaikan tata kelola. Evaluasi hingga ke unit dapur pelayanan terkecil sangat diperlukan agar program ini tetap tepat sasaran dan bebas dari kendala teknis yang merugikan penerima manfaat.

"Harapannya program ini tidak sekadar pemenuhan janji politik Presiden, namun juga menjadi program unggulan yang berdampak untuk membangun generasi emas Indonesia 2045 mendatang," tutup dia.

Dengan integrasi yang kuat antara sektor pertanian, kesehatan, dan ekonomi, Makan Bergizi Gratis diharapkan mampu bertransformasi dari sekadar bantuan sosial menjadi fondasi kedaulatan pangan nasional yang berbasis pada kekuatan lokal Indonesia.

Terkini