Pahami Perbedaan Makan Banyak dan Makan Bergizi Demi Cegah Stunting Balita

Jumat, 30 Januari 2026 | 14:59:30 WIB
Pahami Perbedaan Makan Banyak dan Makan Bergizi Demi Cegah Stunting Balita

JAKARTA - Masalah gizi kronis pada balita sering kali dipicu oleh pemahaman orang tua yang hanya mengutamakan rasa kenyang tanpa memperhatikan kualitas nutrisi.

Persoalan kesehatan anak di Indonesia masih berkutat pada tantangan besar mengenai cara pandang pola makan yang tepat untuk masa pertumbuhan emas. Banyak orang tua merasa cukup tenang ketika melihat buah hatinya makan dalam porsi besar, namun mengabaikan aspek mikro dan makro nutrien. Padahal, durasi pertumbuhan fisik dan perkembangan otak sangat bergantung pada asupan protein hewani serta lemak sehat dibandingkan sekadar asupan karbohidrat.

Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr Piprim Basarah Yanuarso, SpA(K), menegaskan bahwa pola pikir "yang penting kenyang" harus segera diubah total. Beliau menjelaskan bahwa anak yang kenyang karena mengonsumsi nasi dalam jumlah berlebih tanpa lauk yang memadai justru berisiko mengalami malnutrisi tersembunyi. Kondisi ini sering kali menjadi pintu masuk bagi masalah stunting yang sulit diperbaiki jika sudah melewati masa kritis usia bawah lima tahun.

Pentingnya Kualitas Protein Hewani Bagi Pertumbuhan Fisik

Asupan protein hewani memegang peranan kunci dalam pembentukan hormon pertumbuhan serta perbaikan jaringan sel tubuh yang rusak pada anak-anak yang sedang aktif. Dr Piprim menyebutkan bahwa sumber protein seperti telur, ikan, daging ayam, atau daging sapi harus ada dalam setiap porsi makan harian balita. Tanpa protein yang cukup, energi yang didapatkan dari makanan hanya akan disimpan sebagai lemak, bukan digunakan untuk pertumbuhan tinggi badan optimal.

Perbedaan mendasar antara makan banyak dan makan bergizi terletak pada kepadatan nutrisi yang terkandung dalam setiap suapan yang masuk ke mulut sang anak. Makan dalam jumlah besar namun didominasi oleh tepung dan gula hanya akan memberikan lonjakan energi sesaat yang kemudian diikuti oleh rasa lemas. Sementara itu, asupan bergizi seimbang akan memberikan fondasi yang kuat bagi sistem kekebalan tubuh balita agar tidak mudah terserang berbagai penyakit infeksi.

Dampak Jangka Panjang Kurang Gizi Pada Kecerdasan Anak

Kekurangan zat gizi mikro seperti zat besi dan zink yang sering terabaikan dalam porsi makan besar dapat berdampak buruk pada fungsi kognitif balita. Otak manusia berkembang sangat pesat pada usia dini, sehingga memerlukan nutrisi spesifik yang tidak bisa digantikan oleh kalori kosong dari makanan instan. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi, potensi kecerdasan anak di masa depan bisa terhambat secara signifikan dan permanen bagi kehidupannya nanti.

Banyak kasus menunjukkan bahwa balita dengan berat badan berlebih atau obesitas ternyata justru mengalami kekurangan gizi karena jenis makanan yang dikonsumsi tidak variatif. Fenomena ini membuktikan bahwa kuantitas makanan bukanlah indikator utama kesehatan, melainkan komposisi nutrisi yang diserap oleh tubuh yang menjadi parameter paling valid. Orang tua diharapkan lebih cermat dalam menyusun menu harian yang mencakup sayuran, buah-buahan, serta sumber protein yang beragam setiap hari.

Edukasi Pola Makan Sehat Untuk Mencegah Stunting

Edukasi mengenai perbedaan tekstur dan jenis makanan juga perlu diperhatikan oleh para ibu agar anak tidak menjadi pemilih makanan atau disebut "picky eater". Mengenalkan berbagai rasa alami dari bahan makanan segar jauh lebih baik dibandingkan memberikan makanan yang mengandung penguat rasa buatan secara berlebihan. Kebiasaan makan yang dibentuk sejak dini akan terbawa hingga anak dewasa, sehingga peran orang tua dalam memberikan contoh sangatlah krusial sekali.

Dalam keterangannya pada Minggu 25 Januari 2026, dr Piprim juga menyoroti pentingnya jadwal makan yang teratur agar metabolisme tubuh balita tetap terjaga dengan baik. Jangan sampai anak dibiarkan mengonsumsi camilan rendah gizi di luar jam makan utama yang akhirnya membuat mereka menolak makanan sehat saat jam makan tiba. Disiplin dalam pemberian nutrisi adalah investasi jangka panjang yang hasilnya akan terlihat pada kualitas generasi masa depan bangsa Indonesia kelak.

Sinergi Orang Tua Dan Tenaga Medis Pantau Tumbuh Kembang

Kunjungan rutin ke Posyandu atau dokter anak menjadi langkah preventif yang tidak boleh dilewatkan untuk memantau apakah asupan gizi sudah bekerja dengan baik. Melalui pengukuran berat badan dan tinggi badan yang akurat, orang tua bisa mengetahui apakah pola makan yang diterapkan sudah memenuhi standar medis. Jika grafik pertumbuhan menunjukkan tren yang mendatar atau menurun, maka harus segera dilakukan evaluasi terhadap jenis makanan yang diberikan setiap harinya.

Kesadaran kolektif masyarakat tentang pentingnya gizi seimbang harus terus ditingkatkan melalui berbagai kanal informasi agar tidak ada lagi anak yang kekurangan nutrisi. Memastikan balita mendapatkan makanan bergizi bukan hanya tugas individu, tetapi merupakan tanggung jawab bersama demi menciptakan sumber daya manusia yang unggul dan kompetitif. Dengan asupan yang tepat, anak-anak Indonesia akan tumbuh menjadi pribadi yang sehat, kuat, cerdas, serta mampu membawa perubahan positif bagi lingkungannya.

Terkini