Memahami Ragam Gangguan Kecemasan Anak Sejak Dini untuk Penanganan Tepat

Kamis, 29 Januari 2026 | 10:31:43 WIB
Memahami Ragam Gangguan Kecemasan Anak Sejak Dini untuk Penanganan Tepat

JAKARTA - Gangguan kecemasan menjadi salah satu tantangan kesehatan mental yang dapat dialami anak sejak usia dini. 

Kondisi ini sering kali muncul dalam bentuk rasa takut, cemas, dan khawatir yang berlebihan serta sulit dikendalikan. Jika tidak dikenali sejak awal, gangguan kecemasan dapat memengaruhi perkembangan emosional dan sosial anak.

Gangguan kecemasan pada anak kerap tidak disadari karena gejalanya dianggap sebagai bagian dari fase tumbuh kembang. Padahal, kecemasan berlebihan yang berlangsung terus-menerus memerlukan perhatian khusus dari orang tua. Pemahaman yang baik akan membantu orang tua mengambil langkah yang tepat untuk mendukung kesehatan mental anak.

“Gangguan kecemasan adalah merasa takut, cemas, dan khawatir yang terjadi secara berlebihan dan sulit dikendalikan,” kata psikolog klinis anak dan remaja, Monica Sulistiawati dari RS Premier Bintaro. 

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kecemasan yang berlebihan bukanlah kondisi yang bisa diabaikan. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk mengenali bentuk-bentuk gangguan kecemasan sejak awal.

Jenis Gangguan Kecemasan yang Sering Dialami Anak

Salah satu bentuk gangguan kecemasan yang umum adalah General Anxiety Disorder atau GAD. Anak dengan kondisi ini cenderung merasa cemas terhadap berbagai hal yang sebenarnya bersifat umum. Kecemasan tersebut dapat membentuk karakter perfeksionis dan membuat anak mudah tertekan.

“Misalnya, merasa cemas dengan penampilannya, cemas nilainya tidak sesuai dengan yang diharapkan, dan berbagai hal lain. GAD dapat menyebabkan seorang anak terbentuk menjadi pribadi yang perfeksionis,” jelas Monica. Kecemasan ini dapat menghambat anak dalam mengekspresikan diri secara bebas. Dalam jangka panjang, anak bisa kehilangan rasa percaya diri.

Selain itu, panic disorder juga dapat dialami anak dalam situasi tertentu. Kondisi ini ditandai dengan rasa panik yang muncul secara tiba-tiba dan intens. Anak bisa mengalami detak jantung cepat, sesak napas, atau ketakutan berlebihan saat menghadapi situasi tertentu.

Kecemasan yang Berkaitan dengan Lingkungan Sosial

Gangguan kecemasan lain yang kerap muncul adalah Separation Anxiety Disorder atau SAD. Anak dengan kondisi ini merasa sangat cemas ketika harus berpisah dengan orang terdekatnya. Perpisahan singkat sekalipun dapat memicu ketakutan berlebihan.

Social anxiety disorder juga menjadi bentuk kecemasan yang sering dialami anak. Anak akan merasa takut berinteraksi dengan orang di luar lingkaran terdekatnya. Kondisi ini dapat menyebabkan anak kesulitan beradaptasi saat memasuki lingkungan sekolah.

Selective mutism merupakan gangguan kecemasan yang membuat anak tiba-tiba menjadi sangat pendiam. Anak cenderung menghindari interaksi, menundukkan kepala, dan menjauh dari lingkungan sekitar. Biasanya, kondisi ini hanya muncul dalam situasi tertentu yang membuat anak tidak nyaman.

Bentuk Kecemasan Akibat Trauma dan Ketakutan Spesifik

Fobia menjadi salah satu bentuk kecemasan yang muncul akibat ketakutan terhadap objek atau situasi tertentu. Anak bisa merasa sangat takut pada ketinggian, hewan tertentu, atau makanan tertentu. Ketakutan ini sering kali tidak sebanding dengan risiko yang sebenarnya.

Obsessive Compulsive Disorder atau OCD juga termasuk gangguan kecemasan. Anak dengan OCD memiliki obsesi berlebihan terhadap suatu hal tertentu. Jika obsesi tersebut tidak terpenuhi, anak akan merasa sangat cemas dan tidak nyaman.

Post-traumatic Stress Disorder atau PTSD dapat terjadi pada anak yang pernah mengalami peristiwa traumatis. Anak akan merasakan ketakutan berlebihan saat menghadapi situasi yang mengingatkannya pada trauma tersebut. Kondisi ini dapat memengaruhi keseharian dan kestabilan emosi anak.

Masalah Mental Lain yang Perlu Diperhatikan Orang Tua

Selain gangguan kecemasan, terdapat masalah mental lain yang kerap dialami anak. Attention Deficit Hyperactivity Disorder ditandai dengan perilaku yang terlalu aktif dan sulit dikendalikan. Anak juga mengalami kesulitan fokus serta cenderung bertindak impulsif.

Autism Spectrum Disorder juga menjadi masalah kesehatan mental yang cukup banyak terjadi. Kondisi ini berkaitan dengan gangguan perkembangan saraf yang memengaruhi kemampuan sosial, komunikasi, dan perilaku. Anak dengan ASD umumnya menunjukkan gejala sejak usia dini.

Disruptive behavior disorders ditandai dengan kecenderungan melanggar aturan dan perilaku tidak kooperatif. Jika tidak ditangani dengan tepat, kondisi ini dapat memengaruhi hubungan sosial anak. Anak berpotensi tumbuh menjadi pribadi yang kurang peduli terhadap lingkungan sekitar.

Penyebab dan Pentingnya Pendampingan Profesional

Gangguan mental pada anak dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Faktor genetik, tekanan lingkungan, dan pengalaman traumatis menjadi pemicu yang sering ditemukan. Memahami penyebab ini membantu orang tua menentukan langkah penanganan yang tepat.

Eating disorder juga termasuk gangguan mental yang dapat dialami anak. Kondisi ini bisa berupa makan terlalu sedikit atau justru berlebihan. Gangguan makan dapat berdampak serius pada kesehatan fisik dan mental anak.

“Namun, untuk mengetahui penyebab serta cara mengatasinya, Anda disarankan untuk didampingi oleh tim medis profesional,” saran Monica. Orang tua dianjurkan segera berkonsultasi jika anak menunjukkan tanda-tanda gangguan mental. Pendampingan yang tepat akan membantu anak tumbuh dengan kondisi mental yang lebih sehat.

Terkini