Rupiah Tetap Stabil Berkat Stimulus Pemerintah dan Optimisme Fiskal Nasional

Kamis, 29 Januari 2026 | 09:37:18 WIB
Rupiah Tetap Stabil Berkat Stimulus Pemerintah dan Optimisme Fiskal Nasional

JAKARTA - Pergerakan nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini mencerminkan dinamika pasar keuangan global dan domestik. 

Rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat di tengah fluktuasi mata uang kawasan. Kondisi ini terjadi bersamaan dengan penyesuaian sentimen investor terhadap arah kebijakan ekonomi.

Pada awal perdagangan, rupiah berada di posisi Rp16.775 per dolar AS. Pelemahan ini menunjukkan tekanan jangka pendek yang masih membayangi pasar valuta asing. Meski demikian, pergerakan tersebut dinilai masih berada dalam rentang yang terkendali.

Di sisi lain, dolar AS justru mengalami kontraksi pada waktu yang sama. Indeks dolar tercatat bergerak turun ke level 96,27. Situasi ini menunjukkan adanya ketidakpastian global yang mempengaruhi pergerakan mata uang utama.

Pergerakan Mata Uang Asia

Mayoritas mata uang Asia turut dibuka melemah pada perdagangan hari ini. Rupee India tercatat melemah sebesar 0,07 persen. Yuan China juga bergerak turun sebesar 0,02 persen.

Tekanan serupa dialami oleh mata uang kawasan Asia Tenggara. Peso Filipina tercatat terkontraksi sebesar 0,18 persen. Ringgit Malaysia melemah lebih dalam dengan penurunan sebesar 0,29 persen.

Pelemahan serentak ini mencerminkan kehati-hatian pelaku pasar regional. Investor masih mencermati perkembangan ekonomi global yang belum sepenuhnya stabil. Faktor eksternal menjadi penentu utama arah pergerakan mata uang Asia.

Proyeksi Rupiah dan Sentimen Domestik

Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi memproyeksikan rupiah berpotensi menguat. Ia memperkirakan rupiah akan ditutup di kisaran Rp16.670 hingga Rp16.730 per dolar AS. Proyeksi ini didasarkan pada sentimen positif dari dalam negeri.

Menurutnya, kebijakan fiskal pemerintah menjadi penopang utama pergerakan rupiah. Pasar merespons positif keputusan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Pemerintah memutuskan melanjutkan empat program stimulus strategis pada 2026.

Stimulus tersebut mencakup PPh Final 0,5 persen bagi UMKM hingga 2029. Selain itu, terdapat PPh 21 Ditanggung Pemerintah untuk sektor pariwisata dan industri padat karya. Program lainnya adalah diskon iuran JKK dan JKM bagi peserta Bukan Penerima Upah.

Peran APBN dan Kepercayaan Investor

Hingga akhir 2025, APBN dinilai berhasil menjalankan fungsi sebagai peredam guncangan ekonomi. Peran ini terlihat di tengah gejolak ekonomi global yang masih berlangsung. Kebijakan fiskal dinilai mampu menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Defisit anggaran tercatat sebesar Rp695,1 triliun atau 2,92 persen terhadap PDB. Meski demikian, belanja negara mencapai Rp3.451,4 triliun. Alokasi tersebut difokuskan pada program yang berdampak langsung ke masyarakat.

Program Makanan Bergizi Gratis menjadi salah satu prioritas belanja pemerintah. Selain itu, pembinaan Koperasi Unit Desa juga mendapat porsi anggaran signifikan. Kebijakan ini dinilai memperkuat daya beli dan aktivitas ekonomi lokal.

Ibrahim menyampaikan bahwa kepercayaan investor tercermin dari pasar obligasi. Yield Surat Berharga Negara tenor 10 tahun turun ke level 6,41 persen. Angka ini lebih rendah dibandingkan posisi akhir 2024 yang sempat melampaui 7 persen.

Penurunan yield menunjukkan persepsi risiko yang membaik. Investor menilai tata kelola fiskal Indonesia tetap kredibel. Kondisi ini memberikan ruang positif bagi stabilitas nilai tukar rupiah.

Tekanan Global dan Arah Kebijakan The Fed

Dari sisi eksternal, indeks dolar AS dibayangi ketidakpastian kebijakan perdagangan. Retorika agresif Presiden AS Donald Trump kembali menjadi sorotan pasar. Ancaman tarif 25 persen terhadap barang dari Korea Selatan memicu kekhawatiran eskalasi perang dagang.

Kondisi tersebut meningkatkan volatilitas di pasar keuangan global. Investor cenderung bersikap defensif terhadap aset berisiko. Ketidakpastian ini turut memengaruhi pergerakan mata uang negara berkembang.

“Di saat yang sama, kekhawatiran akan penutupan pemerintahan AS lainnya semakin meningkat, dengan para anggota parlemen menghadapi tenggat waktu pendanaan pada 30 Januari. Dengan latar belakang ini, logam mulia terus menarik aliran safe haven,” ucap Ibrahim dalam keterangan tertulis.

Selain isu fiskal AS, perhatian investor tertuju pada kebijakan moneter. Pasar menantikan pengumuman suku bunga Federal Reserve. Keputusan ini dinilai akan menentukan arah dolar AS dalam jangka pendek.

Konsensus pasar memperkirakan suku bunga akan dipertahankan. The Fed diprediksi menjaga suku bunga di kisaran 3,50 hingga 3,75 persen. Keputusan tersebut diharapkan meredam volatilitas pasar global.

Dengan kombinasi sentimen domestik dan global tersebut, pergerakan rupiah diperkirakan tetap fluktuatif. Namun, dukungan kebijakan fiskal dinilai menjadi faktor penyeimbang. Rupiah diharapkan mampu menjaga stabilitas di tengah tekanan eksternal.

Terkini