Asing Lepas Big Caps, Serok Saham Energi dan Tambang di Sesi Pertama

Rabu, 28 Januari 2026 | 15:37:37 WIB
Asing Lepas Big Caps, Serok Saham Energi dan Tambang di Sesi Pertama

JAKARTA - Pergerakan investor asing kembali menjadi sorotan pada perdagangan sesi pertama. Di tengah fluktuasi pasar, arus dana global terlihat lebih banyak keluar dibanding masuk. Sepanjang paruh awal perdagangan, investor asing mencatatkan net sell sekitar Rp 1 triliun, dengan total pembelian Rp 4,2 triliun dan penjualan mencapai Rp 5,2 triliun.

Tekanan jual terbesar kembali tertuju pada saham perbankan berkapitalisasi jumbo. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi emiten dengan net foreign sell paling besar, mencapai Rp 549,5 miliar dari volume transaksi 73 juta saham. Aksi lepas tersebut sejalan dengan pelemahan harga saham BBCA yang terkoreksi 1,63% ke level 7.525.

Di posisi berikutnya, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) juga masuk daftar saham yang paling banyak dilepas asing. Emiten tambang tersebut membukukan net sell Rp 205,4 miliar dengan volume 44,5 juta saham. Harga ANTM turun 2,94%, setelah sebelumnya sempat melonjak 10,96% pada perdagangan sehari sebelumnya.

Deretan Saham yang Paling Banyak Dilepas Asing

Selain BBCA dan ANTM, sejumlah saham big caps lain turut mengalami tekanan jual. Berikut lima saham dengan net foreign sell terbesar pada sesi pertama perdagangan hari ini:

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) - Rp 549,5 miliar
PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) - Rp 205,4 miliar
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) - Rp 96,5 miliar
PT Astra Internasional Tbk (ASII) - Rp 88,4 miliar
PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) - Rp 588 miliar

Aksi jual pada saham-saham unggulan ini mencerminkan kecenderungan investor asing melakukan profit taking maupun pengurangan eksposur pada sektor-sektor tertentu, khususnya perbankan dan komoditas logam yang sebelumnya mencatat kenaikan harga signifikan.

DEWA Jadi Incaran Utama di Tengah Tekanan Pasar

Di sisi lain, pergerakan berbeda justru terlihat pada sejumlah saham yang sebelumnya tertekan. PT Darma Henwa Tbk (DEWA) menjadi saham dengan net foreign buy terbesar pada sesi pertama, yakni Rp 73,5 miliar. Minat beli asing tersebut turut mendorong harga saham DEWA naik 3,17%.

Aksi akumulasi juga terlihat pada PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET), yang masing-masing mencatat net buy Rp 67,2 miliar dan Rp 63,4 miliar. Harga BREN menguat 1,6%, sementara INET masih bergerak di zona merah dengan koreksi 3,62%.

Daftar Saham dengan Net Foreign Buy Terbesar

Berikut sejumlah saham yang paling banyak diborong investor asing pada sesi pertama perdagangan:

PT Darma Henwa Tbk (DEWA) - Rp 73,5 miliar
PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) - Rp 67,2 miliar
PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) - Rp 63,4 miliar
PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) - Rp 36 miliar
PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) - Rp 35,7 miliar

Pergerakan ini menunjukkan adanya rotasi dana ke saham-saham sektor energi dan pertambangan tertentu, meskipun secara umum tekanan di pasar masih terasa.

IHSG Pangkas Pelemahan, Tapi Masih Ditutup di Zona Merah

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat tertekan cukup dalam pada awal perdagangan. Dalam sepuluh menit pertama, indeks sempat turun 1,13%. Namun, menjelang penutupan sesi pertama, IHSG berhasil memangkas sebagian koreksi.

IHSG akhirnya ditutup melemah 53,67 poin atau turun 0,60% ke posisi 8.921,66. Dari sisi pergerakan saham, sebanyak 441 saham tercatat turun, 232 saham naik, dan 130 saham stagnan. Nilai transaksi mencapai Rp 15,11 triliun dengan volume 33,24 miliar saham dalam 2,08 juta kali transaksi.

Mayoritas sektor berada di zona merah. Koreksi terdalam terjadi pada sektor konsumer primer, properti, serta barang baku. Sementara itu, sektor infrastruktur dan energi mencatatkan penguatan tertinggi, sejalan dengan minat beli asing pada sejumlah saham di sektor tersebut.

Dengan arus dana asing yang masih mencatat net sell dan tekanan pada saham-saham unggulan, pelaku pasar cenderung bersikap selektif. Rotasi ke saham tertentu menunjukkan bahwa peluang tetap ada, namun pergerakan pasar secara keseluruhan masih dibayangi sentimen kehati-hatian.

Terkini