Antam Catatkan Harga Emas Tertinggi Sepanjang Sejarah: Lonjakan di Tengah Kenaikan Emas Global

Rabu, 28 Januari 2026 | 14:03:45 WIB
Antam Catatkan Harga Emas Tertinggi Sepanjang Sejarah: Lonjakan di Tengah Kenaikan Emas Global

JAKARTA - Harga emas Antam kembali mencatatkan rekor baru yang menarik perhatian banyak investor dan masyarakat umum. Pada perdagangan Rabu, 28 Januari 2026, harga emas produksi PT Aneka Tambang (Antam) Tbk., yang dikenal luas sebagai emas Antam Logam Mulia, melonjak ke level tertinggi sepanjang masa. Lonjakan ini menjadi kabar menggembirakan khususnya bagi para pemilik logam mulia yang selama beberapa waktu terakhir mengikuti pergerakan harga emas dunia yang juga mengalami penguatan signifikan.

Melansir data dari situs resmi PT Antam, logammulia.com, per pukul 08.29 WIB di butik emas LM Graha Dipta Pulo Gadung, Jakarta, harga emas Antam untuk ukuran satu gram dipatok pada angka Rp2.968.000 per gram. Ini berarti terjadi kenaikan sebesar Rp52.000 dibanding perdagangan sebelumnya, yang menunjukkan bahwa minat terhadap logam mulia masih kuat meskipun pasar global menghadapi tekanan inflasi dan ketidakpastian ekonomi.

Kenaikan ini tidak hanya berarti harga emas kembali menanjak, tetapi juga menjadi rekor tertinggi yang pernah dicapai oleh Antam sepanjang sejarah pencatatan harga emas di Indonesia. Rekor sebelum ini sempat dipegang pada Senin lalu, ketika harga emas Antam mencapai Rp2.917.000 per gram. Dengan begitu, harga terbaru hari ini tidak hanya menguat dari hari sebelumnya tetapi juga melampaui rekor sebelumnya, mencatatkan rentang pergerakan yang cukup signifikan dalam kurun waktu beberapa hari.

Penguatan Harga Buyback Mengikuti Tren Naik

Selain harga jual emas Antam, harga buyback atau harga pembelian kembali oleh Antam juga menunjukkan penguatan. Buyback merupakan harga di mana pemilik emas bisa menjual kembali logam mulia ke Antam, dan hari ini harga tersebut tercatat berada di Rp2.799.000 per gram—naik Rp50.000 dibandingkan catatan sebelumnya.

Penguatan harga buyback ini menjadi indikasi bahwa baik sisi permintaan maupun penawaran masih bergerak pada tren positif. Investor yang sebelumnya membeli emas sebagai lindung nilai terhadap inflasi kini melihat peluang untuk melakukan realisasi keuntungan, atau sekadar mengukuhkan nilai investasinya di tengah volatilitas pasar keuangan global.

Hubungan dengan Pergerakan Emas Dunia

Lonjakan harga emas Antam ini tidak berdiri sendiri. Pergerakan harga emas global juga menunjukkan tren penguatan yang kuat sepanjang minggu ini. Pada Selasa, 27 Januari 2026, harga emas dunia naik 3,48% dan ditutup di level US$5.014,11 per troy ons. Bahkan dalam perdagangan intraday, harga emas sempat menyentuh US$5.189,89 per troy ons, mencatatkan level tertinggi dalam sejarah pasar emas internasional.

Kenaikan tajam ini dipicu oleh beberapa faktor makroekonomi, termasuk kekhawatiran pasar terhadap laju inflasi global, kebijakan moneter di berbagai negara maju, serta pergeseran aliran modal ke aset-aset safe haven seperti emas. Investor di berbagai belahan dunia tampaknya semakin memilih emas sebagai instrumen perlindungan nilai di tengah ketidakpastian geopolitik dan volatilitas pasar saham serta obligasi.

Korelasi positif antara harga emas Antam dan emas dunia menunjukkan bahwa pasar domestik Indonesia masih terikat erat dengan dinamika global, terutama karena Indonesia merupakan bagian dari pasar logam mulia internasional yang berorientasi pada harga acuan global.

Rincian Harga Emas Antam Logam Mulia Hari Ini

Untuk memberikan gambaran lengkap kepada pembaca dan calon investor, berikut adalah rincian harga emas Antam Logam Mulia per Rabu, 28 Januari 2026:

Harga jual emas Antam 1 gram: Rp2.968.000

Harga buyback emas Antam 1 gram: Rp2.799.000

Harga-harga ini dapat berbeda antar butik logam mulia Antam di berbagai kota, tergantung pada biaya layanan, spread, dan kebijakan butik masing-masing. Namun secara umum, harga acuan yang dirilis melalui situs resmi logammulia.com menjadi dasar yang digunakan untuk pedagang emas, investor, maupun perhiasan logam mulia.

Faktor-Faktor yang Mendorong Kenaikan Harga Emas

Beberapa faktor yang menjadi pendorong kuat kenaikan harga emas hingga mencapai rekor tertinggi antara lain:

Kondisi Ekonomi Global
Ketidakpastian pertumbuhan ekonomi di sejumlah negara serta kekhawatiran terhadap resesi teknis di beberapa wilayah telah mendorong investor beralih ke aset yang dianggap lebih aman, seperti emas.

Inflasi dan Kebijakan Moneter
Tingginya tingkat inflasi mendorong bank sentral di berbagai negara mempertahankan suku bunga tinggi, yang secara tidak langsung meningkatkan daya tarik emas sebagai aset lindung nilai terhadap depresiasi mata uang.

Sentimen Geopolitik
Ketegangan geopolitik di beberapa kawasan turut memperkuat permintaan emas karena investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko tinggi ketika ketidakpastian meningkat.

Permintaan Fisik dan Investasi
Permintaan emas fisik dari investor ritel maupun institusi juga meningkat, didukung oleh likuiditas yang memadai dan minat kuat terhadap aset logam mulia.

Impak terhadap Investor dan Masyarakat

Lonjakan harga emas ini memberi sinyal positif bagi investor yang memegang emas sebagai bagian dari portofolio investasi mereka. Bagi yang membeli emas beberapa waktu lalu pada harga di bawah Rp2,9 juta, saat ini tercatat terdapat potensi keuntungan yang signifikan jika dilepas pada level pasar saat ini.

Bagi masyarakat umum yang membeli emas Antam sebagai investasi jangka panjang atau sebagai simpanan nilai, kenaikan harga ini juga menjadi kabar baik. Namun, investor disarankan untuk tetap cermat dalam memutuskan waktu masuk atau keluar pasar, karena harga emas juga dapat mengalami fluktuasi seiring dinamika pasar global.

Melihat tren kenaikan yang terus berlanjut dan tekanan dari berbagai faktor eksternal, harga emas Antam diproyeksikan akan tetap menjadi fokus utama pelaku pasar dalam beberapa waktu ke depan. Lonjakan rekor ini bukan hanya cerminan kondisi pasar saat ini, tetapi juga bukti bahwa emas tetap menjadi instrumen strategis dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi.

Terkini