JAKARTA - Kilau emas makin sulit dibendung. Dalam sepekan terakhir, logam mulia ini tampil bak bintang utama pasar keuangan global, mencetak reli panjang yang mendorong harga mendekati level psikologis baru. Kombinasi ketidakpastian ekonomi, tensi geopolitik, dan melemahnya dolar Amerika Serikat (AS) membuat investor berbondong-bondong mencari perlindungan di aset safe haven.
Harga emas dunia melonjak 3,48% dan ditutup di level US$5.188,95 per troy ons, menjadikannya penutupan tertinggi sepanjang sejarah. Dalam perdagangan intraday, harga bahkan sempat menyentuh US$5.189,89 per troy ons. Level tersebut hanya terpaut tipis dari ambang psikologis baru US$5.200 per troy ons yang kini menjadi perhatian pelaku pasar.
Memasuki perdagangan Rabu hingga pukul 06.25 WIB, harga emas spot memang terkoreksi tipis 0,50% ke posisi US$5.162,79 per troy ons. Meski begitu, koreksi ini belum mengubah gambaran besar bahwa emas sedang berada dalam tren penguatan kuat.
Penguatan terbaru ini memperpanjang reli emas menjadi tujuh hari beruntun dengan total kenaikan mencapai 9,14%. Sepanjang tahun berjalan, harga emas bahkan telah melonjak lebih dari 18%, melanjutkan tren rekor yang sudah terbentuk sejak tahun lalu.
Ketidakpastian Global Jadi Bahan Bakar Reli
Lonjakan harga emas tidak lepas dari meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap kondisi ekonomi dan politik global. Ketidakpastian tersebut mendorong investor mengalihkan dana dari aset berisiko ke instrumen yang dianggap lebih aman, termasuk emas.
Harga emas melonjak lebih dari 3% mencapai rekor tertinggi sepanjang masa pada hari Selasa karena ketidakpastian ekonomi dan geopolitik yang terus-menerus mendorong investor ke logam mulia ini sebagai aset aman.
Selain faktor geopolitik, ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter AS juga menjadi pendorong penting. Pasar menilai peluang penurunan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) masih terbuka, yang pada akhirnya mendukung penguatan harga emas karena menurunkan opportunity cost memegang aset tanpa imbal hasil seperti emas.
Harga emas telah melonjak lebih dari 18% sepanjang tahun ini, melanjutkan reli rekor tahun lalu, didorong oleh kombinasi faktor-faktor seperti meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan ekonomi, ekspektasi penurunan suku bunga AS, dan peningkatan pembelian bank sentral di tengah tren de-dolarisasi global.
"Reli biasanya berakhir karena faktor pendorong yang awalnya membawa orang ke pasar emas menghilang dan itu tidak terjadi," ujar Michael Widmer, ahli strategi komoditas di Bank of America.
Sorotan Tertuju ke Kebijakan AS dan Risiko Fiskal
Pasar juga dibayangi perkembangan kebijakan di Amerika Serikat. Kekhawatiran meningkat ketika Presiden Donald Trump mengumumkan rencana pada hari Senin untuk memberlakukan tarif baru pada impor Korea Selatan, sementara risiko penutupan sebagian pemerintah AS membayangi menjelang tenggat waktu pendanaan 30 Januari.
Di sisi lain, perhatian investor tertuju pada pertemuan kebijakan dua hari The Federal Reserve (The Fed) yang dimulai Selasa. Suku bunga diperkirakan tidak berubah, namun pelaku pasar mencermati konferensi pers Ketua The Fed Jerome Powell pada Rabu, terutama di tengah kekhawatiran yang meningkat terkait independensi bank sentral AS.
Sejumlah lembaga keuangan global bahkan mulai merevisi proyeksi harga emas ke level yang lebih tinggi. Deutsche Bank dan Societe Generale kini memperkirakan harga emas berpotensi menembus US$6.000 per troy ons pada akhir tahun.
Aktivitas perdagangan derivatif juga mencerminkan lonjakan minat pasar. CME Group mengatakan pada hari Selasa bahwa kompleks logamnya mencapai rekor harian tertinggi sebanyak 3.338.528 kontrak pada 26 Januari, melampaui rekor sebelumnya sebanyak 2.829.666 kontrak yang ditetapkan pada 17 Oktober 2025.
Dolar Melemah, Emas Makin Bersinar
Salah satu faktor kunci yang ikut mempercepat reli emas adalah pelemahan dolar AS. Indeks dolar AS tercatat melemah selama empat sesi berturut-turut hingga Selasa, turun ke level 95,7. Posisi ini menjadi yang terendah sejak 16 Februari 2022 atau hampir empat tahun terakhir.
Dolar adalah musuh utama dan abadi bagi harga emas. Pembelian emas global dikonversi ke dolar AS sehingga melemahnya dolar AS bisa membuat pembelian makin murah dan permintaan diharapkan menguat.
Dengan dolar AS yang melemah, harga emas makin berkilau.
Kondisi ini memperkuat daya tarik emas bagi investor global, karena logam mulia menjadi relatif lebih terjangkau bagi pemegang mata uang lain. Jika tekanan pada dolar berlanjut dan ketidakpastian global belum mereda, pasar melihat peluang harga emas untuk terus menanjak dan bahkan menembus tonggak psikologis baru dalam waktu dekat.