Tol Fungsional Jadi Kunci Distribusi Logistik Pascabencana Aceh

Rabu, 28 Januari 2026 | 13:02:54 WIB
Tol Fungsional Jadi Kunci Distribusi Logistik Pascabencana Aceh

JAKARTA - Pembukaan akses infrastruktur kerap menjadi faktor penentu dalam penanganan pascabencana. Di Aceh, kelancaran distribusi bantuan dan mobilitas warga terdampak kini mendapat dukungan signifikan melalui pengoperasian fungsional Jalan Tol Sigli–Banda Aceh (Sibanceh) Seksi 1 Padang Tiji–Seulimeum. Ruas tol tersebut kembali difungsikan untuk memastikan alur logistik tetap bergerak di tengah proses pemulihan wilayah terdampak bencana.

PT Hutama Karya (Persero) memperpanjang masa pengoperasian fungsional Tol Sibanceh Seksi 1 Padang Tiji–Seulimeum hingga 29 Januari 2026. Kebijakan ini tidak hanya ditujukan untuk menunjang aktivitas masyarakat, tetapi juga sebagai langkah strategis mempercepat distribusi bantuan kemanusiaan dan logistik dari berbagai instansi ke wilayah terdampak.

Keberadaan akses jalan yang memadai dinilai sangat krusial, terutama ketika jalur non-tol berpotensi mengalami kepadatan atau gangguan akibat kondisi pascabencana. Oleh karena itu, pemanfaatan tol secara fungsional menjadi solusi jangka pendek yang efektif sembari menunggu penyelesaian konstruksi secara penuh.

Perpanjangan Operasional Tol Fungsional

"Pengoperasian secara fungsional Jalan Tol Sigli–Banda Aceh Seksi 1 (Padang Tiji–Seulimeum) diperpanjang hingga 29 Januari 2026," kata Executive Vice President (EVP) Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Mardiansyah, Senin, 26 Januari 2026.

Perpanjangan ini merupakan kelanjutan dari pengoperasian sebelumnya yang telah dilakukan hingga 22 Januari 2026. Evaluasi terhadap manfaat dan kebutuhan lapangan menjadi dasar keputusan untuk melanjutkan operasional fungsional tersebut, terutama dalam mendukung penanganan dan pemulihan pascabencana di Aceh.

Ruas tol ini menjadi salah satu jalur penting yang menghubungkan berbagai titik strategis di Aceh, sehingga keberadaannya berperan besar dalam menjaga kesinambungan arus barang dan mobilitas masyarakat.

Beroperasi 24 Jam Dua Arah

Mardiansyah menjelaskan bahwa ruas Padang Tiji–Seulimeum dioperasikan secara fungsional selama 24 jam penuh dan dapat dilintasi dua arah. Pengoperasian ini dirancang untuk memberikan fleksibilitas maksimal bagi pengguna jalan, khususnya kendaraan yang terlibat dalam distribusi bantuan.

"Seksi tol Padang Tiji–Seulimeum dioperasikan secara fungsional selama 24 jam dan dapat dilintasi dua arah. Ruas ini diperuntukkan bagi kendaraan Golongan I serta angkutan logistik guna menunjang kelancaran distribusi bantuan dari berbagai instansi," ujar Mardiansyah.

Pembatasan jenis kendaraan diterapkan untuk menjaga keselamatan pengguna jalan, mengingat kondisi ruas tol masih dalam tahap konstruksi. Kendaraan Golongan I serta angkutan logistik dinilai paling sesuai untuk melintas pada kondisi tersebut.

Keselamatan Jadi Perhatian Utama

Meski difungsikan untuk mendukung kebutuhan mendesak, Hutama Karya menegaskan bahwa aspek keselamatan tetap menjadi prioritas utama. Pengoperasian fungsional dilakukan dengan pengawasan ketat serta penerapan rambu lalu lintas yang disesuaikan dengan kondisi lapangan.

Mardiansyah mengimbau para pengguna jalan agar selalu berhati-hati dan mematuhi seluruh rambu yang tersedia selama melintasi ruas tol tersebut. Hal ini penting untuk meminimalkan risiko kecelakaan, mengingat beberapa bagian jalan masih berada dalam proses penyempurnaan.

“Hutama Karya berupaya memastikan akses layanan tetap tersedia secara efisien agar distribusi bantuan berjalan lancar, dengan aspek keselamatan sebagai perhatian utama selama pengoperasian fungsional berlangsung,” ujar Mardiansyah.

Koordinasi Lintas Pemangku Kepentingan

Perpanjangan pengoperasian fungsional Tol Padang Tiji–Seulimeum tidak dilakukan secara sepihak. Hutama Karya telah berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait untuk memastikan keamanan dan kelancaran lalu lintas selama masa operasional.

Koordinasi tersebut melibatkan Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT), kepolisian daerah setempat, serta instansi terkait lainnya. Sinergi antar pemangku kepentingan ini menjadi kunci agar pemanfaatan tol fungsional dapat berjalan optimal tanpa menimbulkan risiko baru bagi pengguna jalan.

Dengan adanya dukungan dari aparat keamanan dan regulator, pengawasan terhadap arus kendaraan dapat dilakukan secara lebih terstruktur.

Konektivitas Tol Sibanceh Semakin Utuh

Mardiansyah menyampaikan bahwa difungsikannya Seksi 1 Padang Tiji–Seulimeum membuat konektivitas Tol Sigli–Banda Aceh sepanjang 74 kilometer semakin optimal. Ruas ini kini tersambung secara utuh dengan seksi lainnya hingga ke wilayah Baitussalam.

"Dengan difungsionalkannya seksi ini, konektivitas Tol Sigli–Banda Aceh sepanjang 74 kilometer kini tersambung secara utuh dengan seksi lainnya hingga ke Baitussalam. Kondisi tersebut diharapkan dapat mempercepat penyaluran bantuan dan logistik kepada warga terdampak, sekaligus menunjang mobilitas masyarakat sekitar dalam aktivitas sehari-hari," jelas Mardiansyah.

Konektivitas yang semakin baik ini diharapkan mampu mengurangi waktu tempuh, menekan biaya logistik, serta meningkatkan efektivitas penanganan pascabencana di Aceh.

Dukungan bagi Pemulihan Wilayah

Pengoperasian fungsional Tol Padang Tiji–Seulimeum menjadi bagian dari upaya lebih luas dalam mendukung pemulihan wilayah terdampak bencana. Selain memperlancar distribusi bantuan, keberadaan akses tol juga membantu aktivitas ekonomi masyarakat agar dapat kembali berjalan secara bertahap.

Mobilitas yang terjaga memungkinkan distribusi kebutuhan pokok, bahan bakar, dan logistik lainnya dapat dilakukan secara lebih cepat dan aman. Dengan demikian, tol fungsional tidak hanya berfungsi sebagai jalur transportasi, tetapi juga sebagai penggerak pemulihan sosial dan ekonomi di wilayah terdampak.

Ke depan, penyelesaian konstruksi secara penuh diharapkan dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat Aceh, sekaligus memperkuat jaringan infrastruktur strategis di kawasan tersebut.

Halaman :

Terkini