Permintaan Global Meningkat Dorong Kinerja Logam Industri Menguat Signifikan

Rabu, 28 Januari 2026 | 09:17:25 WIB
Permintaan Global Meningkat Dorong Kinerja Logam Industri Menguat Signifikan

JAKARTA - Memasuki awal 2026, pasar logam industri menunjukkan pergerakan yang semakin aktif. 

Permintaan global dari berbagai sektor strategis menjadi pendorong utama penguatan harga. Kondisi ini menandai fase dinamis yang berbeda dibandingkan periode sebelumnya.

Kebutuhan dari sektor kendaraan listrik, baterai, dan energi hijau terus meningkat. Selain itu, pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan dan pusat data turut memperluas konsumsi logam industri. Kombinasi faktor tersebut membentuk sentimen positif di pasar komoditas.

Pergerakan harga mencerminkan respons pasar terhadap perubahan kebutuhan global. Logam industri kini menempati posisi penting dalam rantai pasok teknologi modern. Situasi ini membuka peluang pertumbuhan yang berkelanjutan.

Kenaikan Harga Sejumlah Logam Utama

Harga aluminium mencatat kenaikan signifikan secara bulanan hingga mencapai US$ 3.188,5 per ton. Penguatan ini menunjukkan tingginya minat pasar terhadap logam ringan tersebut. Aluminium semakin dibutuhkan sebagai material utama di berbagai industri.

Timah juga mengalami lonjakan harga yang cukup tajam hingga berada di level US$ 54.232 per ton. Kenaikan ini menempatkan timah sebagai salah satu logam dengan performa terbaik. Pergerakan tersebut mencerminkan kuatnya permintaan dari sektor teknologi.

Sementara itu, harga nikel meningkat ke level US$ 18.756 per ton. Penguatan ini sejalan dengan meningkatnya kebutuhan bahan baku baterai. Nikel semakin strategis dalam mendukung transisi energi global.

Dorongan dari Sektor Kendaraan Listrik dan Teknologi

Aluminium dan nikel mendapatkan dukungan kuat dari industri kendaraan listrik. Aluminium digunakan secara luas sebagai material ringan pada bodi kendaraan. Sementara itu, nikel berperan penting dalam katoda baterai berkapasitas tinggi.

Lonjakan pembangunan pusat data global turut meningkatkan konsumsi aluminium. Logam ini banyak digunakan untuk sistem pendingin dan struktur bangunan. Permintaan tersebut memperkuat posisi aluminium di pasar global.

Timah memperoleh dorongan signifikan dari perkembangan teknologi kecerdasan buatan. Kebutuhan semikonduktor dan papan sirkuit meningkat seiring ekspansi teknologi. Timah menjadi bahan utama solder yang menopang industri tersebut.

Peran Pasokan dan Kebijakan Produksi

Dari sisi pasokan, kebijakan pembatasan produksi nikel oleh Indonesia menjadi faktor penting. Langkah ini dilakukan untuk menjaga stabilitas harga di kisaran US$ 19.000 hingga US$ 20.000 per ton. Kebijakan tersebut memberikan penyangga bagi pasar nikel global.

Upaya China dalam menekan kelebihan kapasitas logam industri juga berperan menjaga keseimbangan. Penyesuaian produksi membantu mencegah tekanan berlebih dari sisi pasokan. Kondisi ini mendukung pergerakan harga yang lebih stabil.

Keseimbangan antara pasokan dan permintaan menjadi kunci keberlanjutan pasar. Ketika produksi dikendalikan dan konsumsi meningkat, harga cenderung terjaga. Situasi ini memberikan kepastian bagi pelaku industri.

Prospek dan Risiko Pergerakan Harga

Potensi perdamaian di sejumlah wilayah konflik global dinilai dapat menjadi katalis tambahan. Di Eropa, peluang rekonstruksi infrastruktur skala besar membuka ruang peningkatan permintaan logam industri. Kebutuhan material diperkirakan meningkat signifikan.

Meski demikian, risiko koreksi tetap perlu diperhatikan. Perbaikan ekonomi global dan meredanya ketegangan geopolitik dapat mengurangi sentimen spekulatif. Kondisi tersebut berpotensi menahan laju kenaikan harga.

Proyeksi harga menunjukkan aluminium berpotensi berada di kisaran US$ 3.450 per ton, timah sekitar US$ 57.500 per ton, dan nikel di level US$ 19.000 per ton. 

Pada periode yang sama, aluminium diperkirakan bergerak di rentang US$ 2.450 hingga US$ 4.000 per ton. Timah diproyeksikan berada di kisaran US$ 28.000 hingga US$ 70.000 per ton, sementara nikel diperkirakan bergerak antara US$ 15.000 hingga US$ 40.000 per ton.

Terkini