Ancaman Triple Burden Gizi pada Anak Indonesia Harus Segera Ditangani

Selasa, 27 Januari 2026 | 09:25:53 WIB
Ancaman Triple Burden Gizi pada Anak Indonesia Harus Segera Ditangani

JAKARTA - Persoalan gizi di Indonesia tidak hanya tentang stunting, tetapi juga menyangkut berbagai kondisi lain yang mengintai anak-anak. 

Meskipun prevalensi stunting menurun, ancaman underweight, wasting, dan kelebihan gizi tetap perlu diperhatikan. Guru Besar Pangan dan Gizi IPB Prof. Ali Khomsan menekankan bahwa status gizi anak tidak bisa dilihat hanya dari stunting saja.

Underweight adalah kondisi berat badan di bawah ideal untuk usia anak, sedangkan wasting menunjukkan kekurangan gizi akut dengan tubuh kurus dibanding tinggi badan. 

Ketiga indikator ini saling terkait, namun stunting lebih banyak mendapat perhatian karena persentasenya tertinggi, mencapai 19,8 persen. Ali menegaskan pentingnya memperluas fokus agar permasalahan gizi lain tidak terabaikan.

Indonesia kini menghadapi tren double burden of malnutrition, yaitu kombinasi kekurangan dan kelebihan gizi dalam satu populasi anak. 

Fenomena ini disebabkan pola konsumsi yang tidak seimbang dan semakin meningkatnya obesitas serta overweight pada anak. Selain itu, muncul juga triple burden yang mencakup defisiensi gizi mikro, seperti anemia akibat kekurangan zat besi.

Faktor Penyebab Gizi Buruk

Permasalahan gizi di Indonesia erat kaitannya dengan akses dan daya beli masyarakat serta faktor infeksi. Ketersediaan pangan lokal sebenarnya cukup besar, tetapi keluarga dengan daya beli rendah tetap rentan mengalami masalah gizi. Infeksi seperti diare dan ISPA juga menurunkan nafsu makan anak, memperparah kondisi gizi buruk.

Menurut Ali, penyebab langsung masalah gizi anak adalah rendahnya asupan gizi dan infeksi yang terjadi secara berulang. Kedua faktor ini saling berkaitan dan mempengaruhi pertumbuhan serta kesehatan anak secara keseluruhan. Oleh karena itu, strategi pengentasan gizi harus mempertimbangkan kedua aspek tersebut secara bersamaan.

Pola konsumsi yang tidak sehat juga menjadi penyebab kelebihan gizi, sehingga anak mengalami overweight dan obesitas. Kurangnya edukasi tentang pemilihan makanan bergizi seimbang turut memperparah situasi. Kondisi ini membuat penanganan gizi menjadi tantangan yang kompleks bagi pemerintah dan masyarakat.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG)

Program MBG menjadi salah satu langkah pemerintah untuk meningkatkan akses pangan anak di posyandu maupun sekolah. Cakupan program ini masih perlu diperluas, terutama untuk balita yang rentan mengalami gizi kurang. Ali menekankan pentingnya konsistensi agar program MBG tetap efektif dan tidak menuai kritik.

Kualitas makanan juga menjadi perhatian utama, khususnya soal penggunaan makanan ultra proses. Ali menyarankan agar penyedia MBG menggunakan bahan yang diproses langsung di dapur untuk meminimalkan kritik publik. Dengan cara ini, anak-anak bisa mendapatkan menu bergizi tanpa mengurangi kualitas gizi yang dibutuhkan.

Penerapan pangan lokal juga harus fleksibel, sesuai ketersediaan di tiap daerah. Menu MBG sudah mencakup nasi, lauk, sayur, dan buah, yang sebagian besar bisa bersumber dari produksi lokal. Tidak perlu memaksakan jenis buah tertentu jika tidak tersedia, cukup menyesuaikan dengan kondisi setempat agar tetap bernutrisi.

Evaluasi dan Efektivitas Program

Keberhasilan program gizi tidak hanya diukur dari penurunan angka stunting, wasting, dan underweight. Ali menekankan pentingnya melihat dampak jangka panjang terhadap kualitas sumber daya manusia. Program MBG harus dievaluasi rutin, termasuk kepatuhan konsumsi dan potensi food waste agar anggaran tidak terbuang sia-sia.

Evaluasi dapat melibatkan indikator seperti hasil PISA, yang menunjukkan kemampuan literasi, sains, dan matematika anak. Hal ini penting untuk menilai apakah perbaikan gizi berdampak pada kemampuan akademik. Dengan pendekatan ini, pemerintah dapat mengetahui sejauh mana gizi memengaruhi pertumbuhan intelektual anak.

Kepatuhan konsumsi menjadi faktor penentu keberhasilan program MBG. Ali mengingatkan agar anak-anak benar-benar mengonsumsi makanan yang disediakan, bukan hanya diterima secara formal. Tanpa kepatuhan ini, upaya memperbaiki gizi bisa menjadi tidak efektif meski anggaran besar sudah dialokasikan.

Masa Depan Gizi Anak Indonesia

Isu gizi tidak boleh kehilangan perhatian publik seiring menurunnya kampanye stunting. Ali mengajak semua pihak untuk tetap fokus pada upaya pengentasan gizi secara menyeluruh. Pemerintah, keluarga, dan masyarakat harus bekerja sama untuk memastikan anak mendapatkan gizi seimbang setiap hari.

Penyediaan makanan bergizi yang tepat, edukasi keluarga, serta penguatan program MBG menjadi langkah krusial. Selain itu, fleksibilitas dalam memanfaatkan pangan lokal dapat meningkatkan keterjangkauan dan keberlanjutan program. 

Fokus jangka panjang pada kualitas anak Indonesia akan berdampak pada generasi yang lebih sehat dan berdaya saing.

Dengan pemahaman triple burden of malnutrition, strategi penanganan gizi harus lebih komprehensif dan berkesinambungan. Ali menekankan pentingnya pendekatan berbasis bukti untuk memastikan program yang diterapkan tepat sasaran. 

Masa depan generasi muda Indonesia sangat bergantung pada keberhasilan pengelolaan masalah gizi sejak dini.

Terkini