JAKARTA - Harga minyak mentah global mengalami kenaikan signifikan setelah beberapa bulan bergerak menurun.
WTI ditutup di kisaran US$61,07 per barel, naik hampir 3% dari penutupan sebelumnya. Sementara Brent tercatat menanjak ke US$65,88 per barel, mencerminkan tren positif mingguan.
Pergerakan ini menjadi sorotan pasar, mengingat sebelumnya harga minyak cenderung stagnan. Kenaikan harian dan mingguan ini menunjukkan adanya sentimen optimistis di pasar energi internasional. Para analis memprediksi tren ini bisa menjadi awal stabilisasi harga minyak.
Dinamika harga minyak tak lepas dari pengaruh geopolitik, yang kini kembali menjadi faktor utama. Pasokan global dan keputusan politik beberapa negara penghasil minyak memengaruhi ekspektasi pasar. Lonjakan harga pekan ini menjadi refleksi dari kombinasi faktor tersebut.
Peran Venezuela dalam Pergerakan Pasokan
Salah satu pemicu kenaikan harga minyak adalah transaksi minyak mentah Venezuela. Kilang Valero Energy membeli kargo minyak Venezuela dari Vitol, menandai kembalinya aliran minyak Caracas ke pasar global. Diskon yang ditawarkan mencapai US$8,5–9,5 per barel terhadap Brent, menarik minat pembeli AS.
Langkah ini mencerminkan upaya Venezuela untuk menghidupkan kembali pasarnya setelah pelonggaran izin pemasaran minyak. Sebelum sanksi 2019, kilang AS mengolah sekitar 800.000 barel minyak berat Venezuela setiap hari. Kembalinya pasokan ini dipandang mampu menstabilkan rantai pasok global dalam jangka pendek.
Transaksi minyak Venezuela juga menandai sinyal positif bagi konsumen energi. Aliran minyak baru memberi fleksibilitas pasokan dan menurunkan ketidakpastian. Meskipun demikian, efek jangka panjang tetap bergantung pada konsistensi pengiriman dan geopolitik.
Sentimen Geopolitik dan Dampaknya
Selain Venezuela, faktor geopolitik lain turut mendorong harga minyak. Redanya ancaman tarif AS terkait Greenland menenangkan pasar global. Risiko perang dagang yang mereda memberi sinyal positif terhadap pertumbuhan ekonomi dan konsumsi energi.
Pernyataan Presiden AS terkait tidak ada aksi militer tambahan terhadap Iran juga menambah optimisme. Efek psikologis ini mendorong harga minyak tetap di kisaran US$60–65 per barel. Meski begitu, ketegangan geopolitik masih membayang, sehingga pasar tetap waspada.
Analis menilai kombinasi pengurangan risiko geopolitik dan stabilitas pasokan menjadi penopang harga. Selama konflik tak meningkat menjadi gangguan nyata, harga minyak diperkirakan bertahan. Pergerakan ini memperlihatkan sensitifnya pasar terhadap berita global.
Proyeksi Permintaan dan Neraca Pasokan
International Energy Agency merevisi naik proyeksi permintaan minyak global 2026 menjadi 930.000 barel per hari. Kenaikan ini berasal dari pemulihan ekonomi yang diharapkan mendorong konsumsi energi. Meski proyeksi meningkat, surplus pasokan masih menjadi faktor penghambat kenaikan tajam harga.
Reuters mencatat pasokan global diperkirakan masih melebihi permintaan sekitar 3,69 juta barel per hari. Neraca pasokan yang gemuk menahan lonjakan harga minyak secara drastis. Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar belum sepenuhnya beralih ke fase ketat.
Kombinasi permintaan yang membaik dan surplus pasokan menuntut kehati-hatian investor. Lonjakan harga harus seimbang dengan realitas pasokan yang ada. Pasar minyak global tetap berada dalam fase dinamis dan sensitif terhadap perubahan kebijakan.
Data Persediaan Minyak AS dan Dampaknya
Data stok minyak AS menunjukkan kenaikan persediaan 3,04 juta barel pekan lalu. Angka ini jauh di atas ekspektasi pasar yang hanya 1,1 juta barel. Lonjakan stok menegaskan kondisi oversupply yang membatasi ruang kenaikan harga.
Meningkatnya persediaan menjadi penahan bagi harga meski sentimen geopolitik positif. Pasar menilai kenaikan stok sebagai sinyal bahwa permintaan belum sepenuhnya menyerap pasokan. Akibatnya, volatilitas harga masih terbatas meski ada dorongan optimisme.
Secara keseluruhan, pasar minyak tetap menunjukkan peluang stabilitas. Kenaikan harga menandai respons terhadap faktor geopolitik dan permintaan. Namun, kondisi pasokan dan persediaan global tetap menjadi pengendali utama harga.